BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.2.Pendahuluan
Bioteknologi
adalah ilmu terapan yang melibatkan disiplin ilmu mikrobiolgi, kimia, genitika
dan biomolekuler.Definisi bioteknologi yang memanfaatkan keanekaragaman hayati
untuk menghasilkan barang dan jasa dalam skala industri untuk memenuhi
kebutuhan manusia, sedangkan secara modern, bioteknologi adalah pemamfaatan
agen hayati yang telah direkayasa secara in
vitro untuk menghasilkan barang dan jasa pada skala industri.
Bioteknologi
dikembangkan untuk meningkatkan nilai bahan mentah dengan memanfaatkan
kemampuan mikroorganisme atau bagian bagianya, selain itu bioteknoloi juga
memamfaatkan sel tumbuhan atau sel hewan yang dibiakan sebagai bahan dasar
berbagai proses industri
Teknologi
biogas pada dasarnya memanfaatkan proses pencernaan yang dilakukan oleh bakteri
metanogen yang hasil produk berupa gas metana (CH4) dan bakteri asam . bakteri
metanogen didalam keadaan tidak ada udara.Bakteri metanogen akan secara alami
berada dalam limbah organik, seperti kotoran hewan dan sampah organik rumah
tangga, contoh bakteri metanogen yaitu enthanobacterium,ethanobacillus,
ethanosarcina dan entanococcus
1.1.Latar
Belakang
Biogas
merupakan energi yang dapat dijadikan bahan bakar alternatif untuk menggantikan
bahan bakar yang berasal dari fosil seperti minyak tanah dan gas alam, dengan
pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat dan
semakin menipisnya kebutuhan bahan bakar menjadi permasalahan yang besar
bagi kelangsungan hidup selanjutnya.
Untuk
mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar pemeritah mengembangkan sumber
energi alternatif sebagai bahan bakar minyak, kebijakan tersebut menekan sumber
daya yang dapat diperbaharui sebagai alternatif pengganti bahan bakar minyak,
salah satunya adalah sumber energi alternatif biogas yang berasal dari limbah
organik biomasa yang dapat dimamfaatkan menjadi energi melalui proses anaerobik
digesti.
BAB
II
BIOGAS
BIOGAS
2.1.Sejarah
Biogas
Biogas
adalah energi yang dapat dijadikan sebagai bahan bakar alternatif.Gas metan
terbentuk karenanya adanya proses fermentasi secara anaerobik oleh bakteri
metan atau disebut juga bakteri yang mengurangi sampah sampah yang banyak
mengandung bahan organik sehingga terbentuk gas metan yang apabila dibakar
dapat menghasilkan energi panas.
Sejarah biogas awalnya adalah dari Mesir, China dan
Roma kuno diketahui telah memanfaatkan gas alam ini yang dibakar untuk
menghasilkan panas.Namun, orang pertama yang mengaitkan gas bakar ini dengan
proses pembusukan bahan sayuran adalah A.Volta (1776), sedangkan Wiliam Henri
pada tahun 1806 mengidentifikasikan gas yang dapat terbakar tersebut adalah gas
metan lalu Becham (1968) murid dari Louis Pasteur dan Tappeuner memperlihatkan
asal mikrobiologis dari pembentukan metan
Teknologi
biogas muncul karena dorongan naiknya harga minyak dunia, biogas memberikan
solusi terhadapt masalah penyediaaan energi dengan murah dan tidak mencemari
lingkungan. Biogas pertama kali dikembangankan pada 1970 di Denmark, saat itu ,
Denmark telah membangun 55 lokasi pengolahan biogas
2.2.
Definisi Biogas
Biogas adalah gas yang
dihasilkan dari proses penguraian bahan bahan organik yang dihasilkan oleh
mikroorganisme anaerobik pada kondisi aerob di dalam digester.Gas yang
dimamfaatkan adalah gas metan yang dapat diperoleh setelah melalui rangkaian
proses biokimia yang kompleks.
2.3.Kandungan
Biogas
Kandungan yang terdapat
pada Biogas dapat dilihat pada tabel
dibawah ini
tabel 1.
tabel 1.
Kandungan
|
Kadar (%)
|
CH4
(Metana)
|
55
– 65
|
CO2
(Karbondioksida)
|
35
– 45
|
H
, O , N dan H2S
|
1
|
sumber :tuty
haryati,2006
Kandungan metan yang
tinggi akan menyebabkan semakin besar pula kandungan energi pada biogas dan
sebaliknya.
2.4.
Biogas sebagai Energi Alternatif
Biogas
adalah gas yang mudah terbakar dan dihasilkan oleh aktifitas anaerob dari bahan
bahan organik termasuk diantaranya kotoran ternak, limbah domestik dan sampah
biodegredable dan kondisi anaerob.Kandungan utama dalam biogas adalah metana
dan karbondioksida
Biogas
mampu menyumbangkan energi dalam usaha memenuhi kebutuhan bahan bakar. Bahan
baku sumber energi ini merupakan bahan nonfosil, umumnya adalah limbah atau
kotoran ternak yang produksinya tergantung pada ketersediaan rumput akan selalu
tersedia, karena dapat tumbuh kembali setiap saat selama dipelihara dengan baik
sebagai pembanding yaitu gas alam yang tidak diperhitungkan sebagai energi
renewal, gas alam berasal dari fossil yang pembentukannya memerlukan waktu
jutaan tahun
Biogas
perlu dimamfaatkan sebagai sumber energi alternatif karena perlunya menurunkan
emisi CO dan CH4 agar tidak merusak lapisan ozon, selain itu adanya konflik
politik militer yang memperbutkan bahan bakar minyak karena kenyataannya bahwa
produksi bahan bakar minyak dunia telah mencapai titik puncaknya sementara kebutuhan
energi di negara berkembang
Biogas
adalah bahan bakar yang tidak menghasilkan asap dan merupakan pengganti yang
unggul untuk mengantikan bahan bakar atau gas alam, Gas ini dihasilkan oleh
suatu proses yang disebut proses pencernaan secara anaerobik, merupakan gas
campuran metan (CH4), karbondioksida (CO) dan sejumlah kecil nitrogen, amonia,
sulfurdioksida dan hidrogen.
Secara
alami, gas ini terbentuk pada limbah pembuangan air, tumpukan sampah, dasar
danau atau rawa. Ruminansia termasuk kedalam penghasil biogas dalam sistem
pencernaan, bakteri dalam sistem pencernaan dapat menghasilkan biogas untuk
proses mencerna selulosa biomasa yang mengandung kadar air tinggi
2.5.Biogas
Limbah Peternakan
Perkembangan
atau pertumbuhan industri peternakan menimbulkan masalah bagi lingkungan, karena
menumpukanya limbah peternakan polutan yang disebabkan oleh dekompisisi kotoran
ternak yaitu BOD dan COD ( Biological/ Chemical Oxygen Demand), Bakteri
patogen, polusi air (Terkontaminasinya air bawah tanag, air permukaan), debu
dan polusi bau.
Di banyak negara maju,
kotoran ternak, limbah pertanian, dan kayu bakar digunakan sebagai bahan bakar.
Polusi asap yang diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar tersebut mengakibatkan
masalah kesehatan yang serius dan harus dihindarkan (GHOSE, 1980) Juga yang paling
menjadi perhatian yaitu emisi metan dan karbondioksida yang menyebabkan efek
rumah kaca
Biogas yang dihasil
oleh aktifitas anaerobik sangat populer digunakan untuk mengolah limbah biodegradeble
karena bahan bakar saat dihasilkan sambil menghancurkan bakteri patogen dan
sekaligus mengurangi volume limbah buangan.Metana dalam biogas bila dibakar
akan relatif lebih besih daripada batu bara dan menghasilkan energi yang lebih
penting dalam manajemen limbah karena metana merupaka gas rumah kaca yang lebih
berbahaya dalam pemanasan global bila dibandingkan dengan karbondioksida.
Karbon biogas merupakan karbon yan
diambil dari atmosfer oleh fotosinstesis tanaman, sehingga bila dilepaskan lagi
ke atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon atmosfer bila dibandingkan dengan
pembakaan bahan bakar fosil
Tabel 2. Kandungan
limbah yang digunakan untuk biogas
Kegagalan proses
pencernaan anaerobik dalam digester biogas bisa dikarenakan tidak
seimbangnya populasi bakteri metanogenik terhadap bakteri asam yang menyebabkan
lingkungan menjadi sangat asam (pH kurang dari 7) yang selanjutnya menghambat kelangsungang hidup bakteri metanogenik. Kondisi keasaman yang optimal pada pencernaan anaerobik yaitu sekitar pH 6,8 sampai 8, laju pencernaan akan menurun pada kondisi pH yang lebih tinggi atau rendah.
seimbangnya populasi bakteri metanogenik terhadap bakteri asam yang menyebabkan
lingkungan menjadi sangat asam (pH kurang dari 7) yang selanjutnya menghambat kelangsungang hidup bakteri metanogenik. Kondisi keasaman yang optimal pada pencernaan anaerobik yaitu sekitar pH 6,8 sampai 8, laju pencernaan akan menurun pada kondisi pH yang lebih tinggi atau rendah.
2.6.Prinsip
Pembuatan Biogas
Prinsipnya
biogas adalah dekomposisi bahan organik secara anaerobik unuk menghasilkan gas
yang sebagian besar adalah gas metan dan carbon yang memiliki sifat mudah
terbakar.
2.7.Hal
yang Perlu di Perhatikan untuk Pembuatan Biogas
Hal
yang perlu diperhatikan dan diperlukan agar tercapainya keberhasilan pembuatan
biogas adalah
·
Kotoran ternak terlebih dahulu harus
mengalami dekomposisi secara anaerob
·
Kehadiran mikroorganisme yang
menghasilkan asam organik
·
Kehadiran mikroorganisme metanogen yang
mampu memamfaatkan hidrogen dan asam asetat
·
Pengontrolan terhadap pH, kandungan
carbon, nitrogen, temperatur dan kadar air
·
Reaktor yang memenuhi syarat dan
kapasitas
2.8.Mekanisme
Pembuatan Biogas
Mekanisme
pembuatan biogas dapat dilihat pada bagan dibawah ini
a.
Hidrolisis
Pada tahapan hidrolisis, mikrobia hidrolitik
mendegradasi senyawa organik kompleks yang berupa polimer menjadi monomernya
yang berupa senyawa tidak terlarut dengan berat molekul yang lebih ringan.
Lipida berubah menjadi asam lemak rantai panjang dan gliserin, polisakarida
menjadi gula (mono dan disakarida), protein menjadi asam amino dan asam nukleat
menjadi purin dan pirimidin. Proses hidrolisis membutuhkan mediasi exo-enzim yang disekresi
oleh bakteri fermentatif. Hidrolisis molekul kompleks
dikatalisasi oleh enzim ekstra seluler seperti sellulase, protease, dan lipase
(Said, 2006). Sejumlah besar mikroorganisme anaerob dan fakultatif yang
terlibat dalam proses hidrolisis dan fermentasi senyawa organik antara lain
adalah Clostridium.
b.
Asidogenesis.
Monomer-monomer hasil hidrolisis dikonversi menjadi
senyawa organik sederhana seperti asam lemak volatil, alkohol, asam laktat,
senyawa mineral seperti karbondioksida, hidrogen, amoniak, dan gas hidrogen sulida.
Tahap ini dilakukan oleh berbagai kelompok bakteri, mayoritasnya
adalah bakteri obligat anaerob dan sebagian yang lain bakteri anaerob
fakultatif. Contoh bakteri asedogenik (pembentuk asam) adalah Clostridium
(Said, 2006)
c.
Asetogenesis
Hasil
asidogenesis dikonversi menjadi hasil akhir bagi produksi metana berupa asetat,
hidrogen, dan karbondioksida. Sekitar 70 % dari COD semula diubah menjadi asam
asetat. Pembentukan asam asetat kadang-kadang disertai dengan pembentukan
karbondioksida atau hidrogen, tergantung kondisi oksidasi dari bahan organik
aslinya. Etanol, asam propionate, dan asam butirat dirubah menjadi asam asetat
oleh bakteri asetogenik (bakteri yang memproduksi asetat dan H2) seperti Syntrobacter
wolinii dan Syntrophomas wolfei (Said, 2006). Etanol, asam
propionat, dan asam butirat dirubah menjadi asam asetat oleh bakteri
asetogenik.
d.
Metanogenesis.
Pada
tahap metanogenesis, terbentuk metana dan karbondioksida. Metana dihasilkan
dari asetat atau dari reduksi karbondioksida oleh bakteri metanogen yaitu
metanogen hidrogenotrofik (menggunakan H/kemolitotrof) mengubahhidrogen
dan CO2 menjadi metana, dan metanogen asetotrofik (asetoklasik)metanogen
pemisah asetat yang mengubah asetat menjadi metana dan CO2(Bitton, 1999).
Acetoclastic metanogen
mengubah asam asetat menjadi :
CH3COOH CH4
+ CO2
Hidrogenotropik metanogen
mensintesahidrogen dan karbondioksida menjadi :
2H2
+ CO2 CH4 + 2H2O
Tiga tahap pertama di atas disebutsebagai fermentasi
asam sedangkan tahapkeempat disebut fermentasi metanogenik.Tahap asetogenesis
terkadang ditulis sebagaibagian dari tahap asidogenesis.Dalam proses anaerob,
senyawaorganik diubah terlebih dahulu menjadiasam-asam volatil pada tahap
asidogenesa,kemudian asam volatil ini akan diubahmenjadi metana pada tahap
metanogenesa.Asam volatil utama yang menjadisubstrat bagi bakteri pembentuk
metanaadalah asam asetat. Oleh karena itu, parameterutama untuk proses anaerob
adalahmengendalikan pembentukan asam asetat(Syaila et al.,
1996).
Selain itu, ada tiga kelompok bakteri yang berperan
dalam proses pembentukan biogas:
1.
Kelompok bakteri fermentatif,
yaitu : Steptococci, Bacteriodes, dan beberapa jenis Enterobactericeae.
2.
Kelompok bakteri asetogenik,
yaitu Desulfovibrio.
3.
Kelompok bakteri Metana, yaitu Mathanobacterium,
Mathanobacillus, Methanosacaria, dan Methanococcus
2.9.Mikroorganisme
Metanogen
Mikroorganisme
metanogen adalah bakteri yang mampu
memamfaatkan hidrogen dan asam asetat untuk pembuatan gas metan.Metanogen
membutuhkan kondisi lingkungan yang optimal untuk memproduksi gas metan yaitu
suhu optimal mesofil sekitar 20-30oC, metanogen sangat sensitif pada
kondidi disekitarnya, bahan organik dalam kotoran sapi harus dilakukan dalam
sebuah reaktor yang ditutup agar menghindari oksigen.
Jumlah
metanogen dalam kotoran belum tentu dapat menghasilkan gas metan yang
diinginkan, gas metan yang diperoleh melalui komposisi metanogen yang seimbang,
jika metanogen masih dikurang maka diperlukan penambahan metanogen berbentuk
starter kedalam reaktor, metangen berkembang baik pada 6,2 – 7,4 (dalam raktor)
Penghasilan biogas dapat mencapai
kondisi optimum jika bakteri-bakteri yang terlibat dalam proses tersebut berada
dalam lingkungan yang nyaman. Berikut ini merupakan beberapa hal yang perlu
diperhatikan agar bakteri-bakteri penghasil biogas dapat menghasilkan gas
secara optimum, yaitu:
1. Lingkungan abiotis
Bakteri yang dapat memproduksi gas metan tidak memerlukan
oksigen dalam pertumbuhannya (anaerobik). Oleh karena itu, biodigester
harus tetap dijaga dalam keadaan abiotis (tanpa kontak langsung dengan Oksigen
(O2)).
2. Temperatur
Secara umum terdapat 3 rentang temperatur yang disenangi
oleh bakteri, yaitu:
a. Psikrofilik (suhu
0 – 25°C), optimum pada suhu 20-25°C
b. Mesofilik (suhu 20 –
40°C), optimum pada suhu 30-37°C
c. Termofilik (suhu
45 – 70°C), optimum pada suhu 50-55°C
Temperatur merupakan salah satu hal yang penting bagi
pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri. Menjaga temperatur tetap pada kondisi
optimum yang mendukung pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri, akan meningkatkan
produksi biogas.
3. Derajat keasaman (pH)
Bakteri asidogen dan metanogen memerlukan lingkungan
dengan derajat keasaman optimum yang sedikit berbeda untuk berkembangbiak. pH
yang rendah dapat menghambat pertumbuhan bakteri asidogenesis, sedangkan pH di
bawah 6,4 dapat meracuni bakteri metanogenesis. Rentang pH yang sesuai bagi
perkembangbiakan bakteri metanogenesis 6,6-7 sedangkan rentang pH bagi bakteri
pada umumnya adalah 6,4-7,2. Derajat keasaman harus selalu dijaga dalam wilayah
perkembangbiakan optimum bagi bakteri agar produksi biogas stabil.
4. Rasio C/N bahan isian
Syarat ideal untuk proses digesti adalah C/N = 25 – 30.
Nilai rasio C/N yang terlalu tinggi menandakan konsumsi yang cepat oleh bakteri
metanogenisis, hal itu dapat menurunkan produksi biogas. Sedangkan rasio C/N
yang terlalu rendah akan menyebabkan akumulasi ammonia sehingga pH dapat terus
naik pada keadaan basa hingga 8,5. Kondisi tersebut dapat meracuni bakteri
metanogen. Kadar C/N yang sesuai dapat dicapai dengan mencampurkan beberapa
macam bahan organik, seperti kotoran dengan sampah organik.
Biogas yang dihasilkan oleh sekelompok bakteri yang telah
diuraikan di atas, dapat dijadikan sebagai sumber energi alternatif untuk
menggantikan sumber energi fosil yang saat ini semakin menipis jumlahnya.
Meskipun sama-sama dihasilkan oleh mikroorganisme, namun pembentukan biogas
tidak memerlukan waktu yang sangat lama seperti pembentukan energi fosil.
Hal yang
perlu diperhatikan dalam proses fermentasi sangat ditentukan oleh desain dan
pengaturan digester, beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengoperasian
digester antara lain
1.Pengadukan
Proses pengadukan akan sangat menguntungkan karena apabila
tidak diaduk solid akan mengendap pada dasar tangki dan akan terbentuk busa
pada permukaan yang akan menyulitkan keluarnya gas Masalah tersebut terjadi
lebih besar pada proses
2.Kontrol
Temperatur
Pada daerah panas, penggunaan atap akan membantu agar
temperatur berada pada kondisi yang ideal, tetapi pada daerah dingin akan menyebabkan
masalah. Langkah yang umumnya diambil yaitu dengan melapisi tangki dengan
tumpukan jerami atau serutan kayu dengan ketebalan 50 sampai 100 cm, lalu
dilapisi dengan bungkus tahan air, jika masih kurang maka digunakan koil
pemanas . Temperatur digester yang tinggi akan lebih rentan terhadap kerusakan
karena fluktuasi temperatur, untuk itu diperlukan pemeliharaan
3.Koleksi
Gas
Untuk mengkoleksi biogas yang dihasilkan dipergunakan drum
yang dipasang terbalik, drum harus dapat bergerak sehingga dapat disesuaikan
dengan volume gas yang diperlukan Biogas akan mengalir melalui lubang kecil di
atas drum Digunakan valve searah untuk mencegah masuknya udara luar ke dalam
tangki digester yang akan merusak aktivitas bakteri dan memungkinkan terjadinya
ledakan di dalam drum Pada instalasi yang besar diperlukan kontrol pengukuran
berat dan tekanan
4.
Posisi Digester
Digester biogas yang dibangun di atas permukaan tanah harus
terbuat dari baja untuk menahan tekanan, sedangkan yang dibangun di bawah tanah
umumnya lebih sederhana dan murah Akan tetapi dari segi pemeliharaan, digester
di atas permukaan akan lebih mudah dan digester dapat ditutup lapisan hitam
yang berfungsi untuk menangkap panas matahri
5.Waktu
Resistensi
Faktor lain yang perlu diperhatikan
yaitu waktu retensi, faktor ini sangat dipengaruhi oleh temperatur,
pengenceran, laju pemadukan bahan dan lain sebagainya Pada temperatur yang
tinggi laju fermentasi berlangsung dengan cepat, dan memirunkan waktu proses
yang diperlukan. Pada kondisi normal fermentasi kotoran berlangsung 2 sampai 4
minggu
BAB V
TEKNOLOGI DIGESTER
Terdapat dua teknologi umum digunakan untuk memperoleh biogas
. Pertama, proses yang sangat umum yaitu fermentasi kotoran ternak menggunakan
digester yang didesain khusus dalam kondisi anaerob kedua, teknologi yang baru
ini dikembangkan yaitu menangkap gas metan dari lokasi tumpukan pembuangan
sampah tanpa harus membuat digester khusus Beberapa keuntungan kenapa digester
anaerobik lebih banyak digunakan antara lain Keuntungan pengolahan limbah
·
Digester anaerobik merupakan proses pengolahan
limbah yang alami
·
Membutuhkan lahan yang lebih kecil dibandingkan
dengan proses kompos aerobik ataupun penumpukan sampah
·
Memperkecil volume atau berat limbah yang
dibuang
·
Memperkecil rembesan polutan Keuntungan energi
·
Proses produksi energi bersih
·
Memperoleh bahan bakar berkualitas tinggi dan
dapat diperbaharui
·
Biogas dapat dipergunakan untuk berbagai
penggunaan Keuntungan lingkungan
·
Menurunkan emisi gas metan dan karbon dioksida
secara signifikan
Bagian utama dari proses produksi biogas yaitu tangki
tertutup yang disebut digester Tangki yang kedap yang diisi oleh bahan organik,
dan solid buangan proses dapat dikeluarkan . Desain digester bermacam macam
sesuai dengan jenis bahan baku yang digunakan, temperatur yang dipakai dan
bahan konstruksi Digester dapat terbuat dari cor beton, baja, bata atau plastik
dan bentuknya dapat berupa seperti silo, bak, kolam dan dapat diletakkan di
bawah tanah Pemilihan jenis digester sangat tergantung dari jenis limbah ;
contohnya desain digester untuk limbah kotoran unggas akan lain dengan limbah
kotoran babi atau sapi
Tiga jenis digester menurut kontruksinya. Masing-masing
berbeda biaya pembuatannya, kecocokan dengan iklim dan juga konsentrasi solid
kotoran yang akan difermentasi .
Covered lagoon
digester (digester bak tertutup) sesuai dengan namanya, merupakan kolam
penampung kotoran ternak dengan tutup . Tutup menangkap gas yang dihasilkan
selama proses dekomposisi kotoran Jenis ini merupakan yang termurah biayanya
Menutupi bak yang berisi kotoran ternak merupakan desain yang paling sederhana
dari teknologi digester yang digunakan untuk kotoran cair dengan kandungan
solid kurang dari 3% Tutupnya berupa bahan tak tembus (impermeable) dan
menutupi seluruh permukaan bak. Bak tersebut terbuat dari cor beton dan
ditutupi hingga kedap Metan yang dihasilkan terperangkap di bawah tutup Gas
yang akan digunakan dikeluarkan melalui pipa Digester jenis ini memerlukan
kolam yang besar dan temperatur yang hangat dan tidak cocok untuk daerah dingin
atau daerah
Complete mix digester
terbuat dari baja, cocok untuk volume kotoran ternak yang besar dan mempunyai
kandungan solid antara 10% Tangki yang dilengkapi pemanas juga pengaduk mekanik
dan selama proses fermentasi bahan diaduk secara terus menerus sehingga solid
tetap dalam keadaan tersuspensi . Biogas yang terbentuk terakumulasi di bagian
atas digester . Digester bisa diinstalasi di atas atau terkubur di bawah tanah
Digester jenis ini mahal biaya pembuatan, operasional dan pemeliharaannya
Plugflow digester
cocok untuk limbah yang berasal dari kotoran ruminansia yang mempunyai
kandungan padatan antara 11 sampai 13% Ciri khas jenis ini memiliki tempat
pengumpulan kotoran, tempat pencampuran dan tangki digester Pada tempat
pencampuran, penambahan air diatur sehinggga slurry mempunyai konsistensi yang
optimal Digester biasanya persegi panjang, kedap air dan dengan tutup yang
dapat diubah
BAB IV
KEGUNAAN BIOGAS
KEGUNAAN BIOGAS
3.1.Kegunaan Biogas
Biogas
digunakan sebagai gas alternatif untuk memanaskan dan menghasilkan energi
listrik. Biogas bersifat ramah lingkungan dan dapat mengurangi efek rumah kaca.
Pemanfaatan biogas sebagai energi alternatif akan mengurangi penggunaan kayu bakar. Dengan demikian dapat mengurangi usaha pohon di hutan, sehingga ekosistem hutan tetap terjaga.Sebagai energi alternatif
Pemanfaatan biogas sebagai energi alternatif akan mengurangi penggunaan kayu bakar. Dengan demikian dapat mengurangi usaha pohon di hutan, sehingga ekosistem hutan tetap terjaga.Sebagai energi alternatif
Tabel
: Kesetaraan biogas dengan bahan bakar lainya (Deptan,2009)
3.2.Potensi Penggunaan Biogas di Indonesia
Teknologi
biogas adalah teknologi yang dapat dikembangkan dimana saja selama ketersediaan
limbah yang digunakan masih ada.Di negara maju perkembangan teknologi biogas
sejalan dengan perkembangan teknologi lainya, untuk di indonesia teknologi
biogas dapat dibangun dengan kepemilikan kolektif dan dipelihara secara bersama
Beberapa
alasan biogas belum populer penggunaan nya dikalangan peternak indonesia adalah
kurangnya sosialisasi dan teknologi yang diterapkan masih kurang praktis dan
pelu pemeliharaan yang seksama
Kesimpulan
Biogas merupakan energi
yang dapat dijadikan bahan bakar alternatif untuk menggantikan bahan bakar yang
berasal dari fosil seperti minyak tanah dan gas alam, dengan pertumbuhan
penduduk yang semakin meningkat dan
semakin menipisnya kebutuhan bahan bakar menjadi permasalahan yang besar
bagi kelangsungan hidup. Biogas hasil dari proses penguraian bahan bahan
organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme anaerobik pada kondisi aerob di
dalam digester.
Proses pembuatanya
melalui 4 tahap yaitu Hidrolisis, asidolisis, asetogenesis dan metanogenesis dengan 3 jenis bakteri yang berperan yaitu
bakteri fermentatif, asidogenik dan metanogenik. Terdapat dua teknologi
umum digunakan untuk memperoleh biogas . Pertama, proses yang sangat umum yaitu
fermentasi kotoran ternak menggunakan digester yang didesain khusus dalam
kondisi anaerob kedua, teknologi yang baru ini dikembangkan yaitu menangkap gas
metan dari lokasi tumpukan pembuangan sampah tanpa harus membuat digester khusus
Biogas
digunakan sebagai gas alternatif untuk memanaskan dan menghasilkan energi
listrik. Biogas bersifat ramah lingkungan dan dapat mengurangi efek rumah kaca.
Pemanfaatan biogas sebagai energi alternatif akan mengurangi penggunaan kayu bakar. Dengan demikian dapat mengurangi usaha pohon di hutan, sehingga ekosistem hutan tetap terjaga.
Pemanfaatan biogas sebagai energi alternatif akan mengurangi penggunaan kayu bakar. Dengan demikian dapat mengurangi usaha pohon di hutan, sehingga ekosistem hutan tetap terjaga.
