Sabtu, 20 Februari 2016

biogas



BAB I
PENDAHULUAN
1.2.Pendahuluan
            Bioteknologi adalah ilmu terapan yang melibatkan disiplin ilmu mikrobiolgi, kimia, genitika dan biomolekuler.Definisi bioteknologi yang memanfaatkan keanekaragaman hayati untuk menghasilkan barang dan jasa dalam skala industri untuk memenuhi kebutuhan manusia, sedangkan secara modern, bioteknologi adalah pemamfaatan agen hayati yang telah direkayasa secara in vitro untuk menghasilkan barang dan jasa pada skala industri.
            Bioteknologi dikembangkan untuk meningkatkan nilai bahan mentah dengan memanfaatkan kemampuan mikroorganisme atau bagian bagianya, selain itu bioteknoloi juga memamfaatkan sel tumbuhan atau sel hewan yang dibiakan sebagai bahan dasar berbagai proses  industri
            Teknologi biogas pada dasarnya memanfaatkan proses pencernaan yang dilakukan oleh bakteri metanogen yang hasil produk berupa gas metana (CH4) dan bakteri asam . bakteri metanogen didalam keadaan tidak ada udara.Bakteri metanogen akan secara alami berada dalam limbah organik, seperti kotoran hewan dan sampah organik rumah tangga, contoh bakteri metanogen yaitu enthanobacterium,ethanobacillus, ethanosarcina dan entanococcus
1.1.Latar Belakang
            Biogas merupakan energi yang dapat dijadikan bahan bakar alternatif untuk menggantikan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti minyak tanah dan gas alam, dengan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat dan  semakin menipisnya kebutuhan bahan bakar menjadi permasalahan yang besar bagi kelangsungan hidup selanjutnya.
            Untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar pemeritah mengembangkan sumber energi alternatif sebagai bahan bakar minyak, kebijakan tersebut menekan sumber daya yang dapat diperbaharui sebagai alternatif pengganti bahan bakar minyak, salah satunya adalah sumber energi alternatif biogas yang berasal dari limbah organik biomasa yang dapat dimamfaatkan menjadi energi melalui proses anaerobik digesti.
BAB II
BIOGAS
2.1.Sejarah Biogas
            Biogas adalah energi yang dapat dijadikan sebagai bahan bakar alternatif.Gas metan terbentuk karenanya adanya proses fermentasi secara anaerobik oleh bakteri metan atau disebut juga bakteri yang mengurangi sampah sampah yang banyak mengandung bahan organik sehingga terbentuk gas metan yang apabila dibakar dapat menghasilkan energi panas.
            Sejarah  biogas awalnya adalah dari Mesir, China dan Roma kuno diketahui telah memanfaatkan gas alam ini yang dibakar untuk menghasilkan panas.Namun, orang pertama yang mengaitkan gas bakar ini dengan proses pembusukan bahan sayuran adalah A.Volta (1776), sedangkan Wiliam Henri pada tahun 1806 mengidentifikasikan gas yang dapat terbakar tersebut adalah gas metan lalu Becham (1968) murid dari Louis Pasteur dan Tappeuner memperlihatkan asal mikrobiologis dari pembentukan metan
            Teknologi biogas muncul karena dorongan naiknya harga minyak dunia, biogas memberikan solusi terhadapt masalah penyediaaan energi dengan murah dan tidak mencemari lingkungan. Biogas pertama kali dikembangankan pada 1970 di Denmark, saat itu , Denmark telah membangun 55 lokasi pengolahan biogas
2.2. Definisi Biogas
Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan bahan organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme anaerobik pada kondisi aerob di dalam digester.Gas yang dimamfaatkan adalah gas metan yang dapat diperoleh setelah melalui rangkaian proses biokimia yang kompleks.
2.3.Kandungan Biogas
Kandungan yang terdapat pada Biogas dapat dilihat pada tabel  dibawah ini
tabel 1.
Kandungan
Kadar (%)
CH4 (Metana)
55 – 65
CO2 (Karbondioksida)
35 – 45
H , O , N dan H2S
1
 sumber :tuty haryati,2006    
Kandungan metan yang tinggi akan menyebabkan semakin besar pula kandungan energi pada biogas dan sebaliknya.
2.4. Biogas sebagai Energi Alternatif
            Biogas adalah gas yang mudah terbakar dan dihasilkan oleh aktifitas anaerob dari bahan bahan organik termasuk diantaranya kotoran ternak, limbah domestik dan sampah biodegredable dan kondisi anaerob.Kandungan utama dalam biogas adalah metana dan karbondioksida
            Biogas mampu menyumbangkan energi dalam usaha memenuhi kebutuhan bahan bakar. Bahan baku sumber energi ini merupakan bahan nonfosil, umumnya adalah limbah atau kotoran ternak yang produksinya tergantung pada ketersediaan rumput akan selalu tersedia, karena dapat tumbuh kembali setiap saat selama dipelihara dengan baik sebagai pembanding yaitu gas alam yang tidak diperhitungkan sebagai energi renewal, gas alam berasal dari fossil yang pembentukannya memerlukan waktu jutaan tahun
            Biogas perlu dimamfaatkan sebagai sumber energi alternatif karena perlunya menurunkan emisi CO dan CH4 agar tidak merusak lapisan ozon, selain itu adanya konflik politik militer yang memperbutkan bahan bakar minyak karena kenyataannya bahwa produksi bahan bakar minyak dunia telah mencapai titik puncaknya sementara kebutuhan energi di negara berkembang
            Biogas adalah bahan bakar yang tidak menghasilkan asap dan merupakan pengganti yang unggul untuk mengantikan bahan bakar atau gas alam, Gas ini dihasilkan oleh suatu proses yang disebut proses pencernaan secara anaerobik, merupakan gas campuran metan (CH4), karbondioksida (CO) dan sejumlah kecil nitrogen, amonia, sulfurdioksida dan hidrogen.
            Secara alami, gas ini terbentuk pada limbah pembuangan air, tumpukan sampah, dasar danau atau rawa. Ruminansia termasuk kedalam penghasil biogas dalam sistem pencernaan, bakteri dalam sistem pencernaan dapat menghasilkan biogas untuk proses mencerna selulosa biomasa yang mengandung kadar air tinggi
2.5.Biogas Limbah Peternakan
            Perkembangan atau pertumbuhan industri peternakan menimbulkan masalah bagi lingkungan, karena menumpukanya limbah peternakan polutan yang disebabkan oleh dekompisisi kotoran ternak yaitu BOD dan COD ( Biological/ Chemical Oxygen Demand), Bakteri patogen, polusi air (Terkontaminasinya air bawah tanag, air permukaan), debu dan polusi bau.
Di banyak negara maju, kotoran ternak, limbah pertanian, dan kayu bakar digunakan sebagai bahan bakar. Polusi asap yang diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar tersebut mengakibatkan masalah kesehatan yang serius dan harus dihindarkan (GHOSE, 1980) Juga yang paling menjadi perhatian yaitu emisi metan dan karbondioksida yang menyebabkan efek rumah kaca
Biogas yang dihasil oleh aktifitas anaerobik sangat populer digunakan untuk mengolah limbah biodegradeble karena bahan bakar saat dihasilkan sambil menghancurkan bakteri patogen dan sekaligus mengurangi volume limbah buangan.Metana dalam biogas bila dibakar akan relatif lebih besih daripada batu bara dan menghasilkan energi yang lebih penting dalam manajemen limbah karena metana merupaka gas rumah kaca yang lebih berbahaya dalam pemanasan global bila dibandingkan dengan karbondioksida. Karbon  biogas merupakan karbon yan diambil dari atmosfer oleh fotosinstesis tanaman, sehingga bila dilepaskan lagi ke atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon atmosfer bila dibandingkan dengan pembakaan bahan bakar fosil





Tabel 2. Kandungan limbah yang digunakan untuk biogas
Kegagalan proses pencernaan anaerobik dalam digester biogas bisa dikarenakan tidak
seimbangnya populasi bakteri metanogenik terhadap bakteri asam yang menyebabkan
lingkungan menjadi sangat asam (pH kurang dari 7) yang selanjutnya menghambat kelangsungang hidup bakteri metanogenik. Kondisi keasaman yang optimal pada pencernaan anaerobik yaitu sekitar pH 6,8 sampai 8, laju pencernaan akan menurun pada kondisi pH yang lebih tinggi atau rendah.
2.6.Prinsip Pembuatan Biogas
            Prinsipnya biogas adalah dekomposisi bahan organik secara anaerobik unuk menghasilkan gas yang sebagian besar adalah gas metan dan carbon yang memiliki sifat mudah terbakar.
2.7.Hal yang Perlu di Perhatikan untuk Pembuatan Biogas
            Hal yang perlu diperhatikan dan diperlukan agar tercapainya keberhasilan pembuatan biogas adalah
·         Kotoran ternak terlebih dahulu harus mengalami dekomposisi secara anaerob
·         Kehadiran mikroorganisme yang menghasilkan asam organik
·         Kehadiran mikroorganisme metanogen yang mampu memamfaatkan hidrogen dan asam asetat
·         Pengontrolan terhadap pH, kandungan carbon, nitrogen, temperatur dan kadar air
·         Reaktor yang memenuhi syarat dan kapasitas
2.8.Mekanisme Pembuatan Biogas
            Mekanisme pembuatan biogas dapat dilihat pada bagan dibawah ini
a.      Hidrolisis
Pada tahapan hidrolisis, mikrobia hidrolitik mendegradasi senyawa organik kompleks yang berupa polimer menjadi monomernya yang berupa senyawa tidak terlarut dengan berat molekul yang lebih ringan. Lipida berubah menjadi asam lemak rantai panjang dan gliserin, polisakarida menjadi gula (mono dan disakarida), protein menjadi asam amino dan asam nukleat menjadi purin dan pirimidin. Proses hidrolisis membutuhkan mediasi exo-enzim yang disekresi oleh bakteri fermentatif. Hidrolisis molekul kompleks dikatalisasi oleh enzim ekstra seluler seperti sellulase, protease, dan lipase (Said, 2006). Sejumlah besar mikroorganisme anaerob dan fakultatif yang terlibat dalam proses hidrolisis dan fermentasi senyawa organik antara lain adalah Clostridium.
b.      Asidogenesis.
Monomer-monomer hasil hidrolisis dikonversi menjadi senyawa organik sederhana seperti asam lemak volatil, alkohol, asam laktat, senyawa mineral seperti karbondioksida, hidrogen, amoniak, dan gas hidrogen sulida. Tahap ini dilakukan oleh berbagai kelompok bakteri, mayoritasnya adalah bakteri obligat anaerob dan sebagian yang lain bakteri anaerob fakultatif. Contoh bakteri asedogenik (pembentuk asam) adalah Clostridium (Said, 2006)
c.       Asetogenesis
Hasil asidogenesis dikonversi menjadi hasil akhir bagi produksi metana berupa asetat, hidrogen, dan karbondioksida. Sekitar 70 % dari COD semula diubah menjadi asam asetat. Pembentukan asam asetat kadang-kadang disertai dengan pembentukan karbondioksida atau hidrogen, tergantung kondisi oksidasi dari bahan organik aslinya. Etanol, asam propionate, dan asam butirat dirubah menjadi asam asetat oleh bakteri asetogenik (bakteri yang memproduksi asetat dan H2) seperti Syntrobacter wolinii dan Syntrophomas wolfei (Said, 2006). Etanol, asam propionat, dan asam butirat dirubah menjadi asam asetat oleh bakteri asetogenik.


d.      Metanogenesis.
Pada tahap metanogenesis, terbentuk metana dan karbondioksida. Metana dihasilkan dari asetat atau dari reduksi karbondioksida oleh bakteri metanogen yaitu metanogen hidrogenotrofik (menggunakan H/kemolitotrof) mengubahhidrogen dan CO2 menjadi metana, dan metanogen asetotrofik (asetoklasik)metanogen pemisah asetat yang mengubah asetat menjadi metana dan CO2(Bitton, 1999).
Acetoclastic metanogen mengubah asam asetat menjadi :
CH3COOH                 CH4 + CO2
Hidrogenotropik metanogen mensintesahidrogen dan karbondioksida menjadi :
2H2 + CO2                 CH4 + 2H2O

Tiga tahap pertama di atas disebutsebagai fermentasi asam sedangkan tahapkeempat disebut fermentasi metanogenik.Tahap asetogenesis terkadang ditulis sebagaibagian dari tahap asidogenesis.Dalam proses anaerob, senyawaorganik diubah terlebih dahulu menjadiasam-asam volatil pada tahap asidogenesa,kemudian asam volatil ini akan diubahmenjadi metana pada tahap metanogenesa.Asam volatil utama yang menjadisubstrat bagi bakteri pembentuk metanaadalah asam asetat. Oleh karena itu, parameterutama untuk proses anaerob adalahmengendalikan pembentukan asam asetat(Syaila et al., 1996).
Selain itu, ada tiga kelompok bakteri yang berperan dalam proses pembentukan biogas:
1.                 Kelompok bakteri fermentatif, yaitu : Steptococci, Bacteriodes, dan beberapa jenis Enterobactericeae.
2.                 Kelompok bakteri asetogenik, yaitu Desulfovibrio.
3.                 Kelompok bakteri Metana, yaitu Mathanobacterium, Mathanobacillus, Methanosacaria, dan Methanococcus
2.9.Mikroorganisme Metanogen
            Mikroorganisme metanogen adalah bakteri  yang mampu memamfaatkan hidrogen dan asam asetat untuk pembuatan gas metan.Metanogen membutuhkan kondisi lingkungan yang optimal untuk memproduksi gas metan yaitu suhu optimal mesofil sekitar 20-30oC, metanogen sangat sensitif pada kondidi disekitarnya, bahan organik dalam kotoran sapi harus dilakukan dalam sebuah reaktor yang ditutup agar menghindari oksigen.
            Jumlah metanogen dalam kotoran belum tentu dapat menghasilkan gas metan yang diinginkan, gas metan yang diperoleh melalui komposisi metanogen yang seimbang, jika metanogen masih dikurang maka diperlukan penambahan metanogen berbentuk starter kedalam reaktor, metangen berkembang baik pada 6,2 – 7,4 (dalam raktor)
Penghasilan biogas dapat mencapai kondisi optimum jika bakteri-bakteri yang terlibat dalam proses tersebut berada dalam lingkungan yang nyaman. Berikut ini merupakan beberapa hal yang perlu diperhatikan agar bakteri-bakteri penghasil biogas dapat menghasilkan gas secara optimum, yaitu:

1.      Lingkungan abiotis
Bakteri yang dapat memproduksi gas metan tidak memerlukan oksigen dalam pertumbuhannya (anaerobik).  Oleh karena itu, biodigester harus tetap dijaga dalam keadaan abiotis (tanpa kontak langsung dengan Oksigen (O2)).
2.      Temperatur
Secara umum terdapat 3 rentang temperatur yang disenangi oleh bakteri, yaitu:
a.       Psikrofilik (suhu 0 – 25°C), optimum pada suhu 20-25°C
b.      Mesofilik (suhu 20 – 40°C), optimum pada suhu 30-37°C
c.       Termofilik (suhu 45 – 70°C), optimum pada suhu 50-55°C
Temperatur merupakan salah satu hal yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri. Menjaga temperatur tetap pada kondisi optimum yang mendukung pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri, akan meningkatkan produksi biogas.
3.      Derajat keasaman (pH)
Bakteri asidogen dan metanogen memerlukan lingkungan dengan derajat keasaman optimum yang sedikit berbeda untuk berkembangbiak. pH yang rendah dapat menghambat pertumbuhan bakteri asidogenesis, sedangkan pH di bawah 6,4 dapat meracuni bakteri metanogenesis. Rentang pH yang sesuai bagi perkembangbiakan bakteri metanogenesis 6,6-7 sedangkan rentang pH bagi bakteri pada umumnya adalah 6,4-7,2. Derajat keasaman harus selalu dijaga dalam wilayah perkembangbiakan optimum bagi bakteri agar produksi biogas stabil.
4.      Rasio C/N bahan isian
Syarat ideal untuk proses digesti adalah C/N = 25 – 30. Nilai rasio C/N yang terlalu tinggi menandakan konsumsi yang cepat oleh bakteri metanogenisis, hal itu dapat menurunkan produksi biogas. Sedangkan rasio C/N yang terlalu rendah akan menyebabkan akumulasi ammonia sehingga pH dapat terus naik pada keadaan basa hingga 8,5. Kondisi tersebut dapat meracuni bakteri metanogen. Kadar C/N yang sesuai dapat dicapai dengan mencampurkan beberapa macam bahan organik, seperti kotoran dengan sampah organik.
Biogas yang dihasilkan oleh sekelompok bakteri yang telah diuraikan di atas, dapat dijadikan sebagai sumber energi alternatif untuk menggantikan sumber energi fosil yang saat ini semakin menipis jumlahnya. Meskipun sama-sama dihasilkan oleh mikroorganisme, namun pembentukan biogas tidak memerlukan waktu yang sangat lama seperti pembentukan energi fosil.

            Hal yang perlu diperhatikan dalam proses fermentasi sangat ditentukan oleh desain dan pengaturan digester, beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengoperasian digester antara lain
1.Pengadukan                        
Proses pengadukan akan sangat menguntungkan karena apabila tidak diaduk solid akan mengendap pada dasar tangki dan akan terbentuk busa pada permukaan yang akan menyulitkan keluarnya gas Masalah tersebut terjadi lebih besar pada proses
2.Kontrol Temperatur
Pada daerah panas, penggunaan atap akan membantu agar temperatur berada pada kondisi yang ideal, tetapi pada daerah dingin akan menyebabkan masalah. Langkah yang umumnya diambil yaitu dengan melapisi tangki dengan tumpukan jerami atau serutan kayu dengan ketebalan 50 sampai 100 cm, lalu dilapisi dengan bungkus tahan air, jika masih kurang maka digunakan koil pemanas . Temperatur digester yang tinggi akan lebih rentan terhadap kerusakan karena fluktuasi temperatur, untuk itu diperlukan pemeliharaan

3.Koleksi Gas
Untuk mengkoleksi biogas yang dihasilkan dipergunakan drum yang dipasang terbalik, drum harus dapat bergerak sehingga dapat disesuaikan dengan volume gas yang diperlukan Biogas akan mengalir melalui lubang kecil di atas drum Digunakan valve searah untuk mencegah masuknya udara luar ke dalam tangki digester yang akan merusak aktivitas bakteri dan memungkinkan terjadinya ledakan di dalam drum Pada instalasi yang besar diperlukan kontrol pengukuran berat dan tekanan

4. Posisi Digester
Digester biogas yang dibangun di atas permukaan tanah harus terbuat dari baja untuk menahan tekanan, sedangkan yang dibangun di bawah tanah umumnya lebih sederhana dan murah Akan tetapi dari segi pemeliharaan, digester di atas permukaan akan lebih mudah dan digester dapat ditutup lapisan hitam yang berfungsi untuk menangkap panas matahri

5.Waktu Resistensi
            Faktor lain yang perlu diperhatikan yaitu waktu retensi, faktor ini sangat dipengaruhi oleh temperatur, pengenceran, laju pemadukan bahan dan lain sebagainya Pada temperatur yang tinggi laju fermentasi berlangsung dengan cepat, dan memirunkan waktu proses yang diperlukan. Pada kondisi normal fermentasi kotoran berlangsung 2 sampai 4 minggu

BAB V
TEKNOLOGI DIGESTER

Terdapat dua teknologi umum digunakan untuk memperoleh biogas . Pertama, proses yang sangat umum yaitu fermentasi kotoran ternak menggunakan digester yang didesain khusus dalam kondisi anaerob kedua, teknologi yang baru ini dikembangkan yaitu menangkap gas metan dari lokasi tumpukan pembuangan sampah tanpa harus membuat digester khusus Beberapa keuntungan kenapa digester anaerobik lebih banyak digunakan antara lain Keuntungan pengolahan limbah
·         Digester anaerobik merupakan proses pengolahan limbah yang alami
·         Membutuhkan lahan yang lebih kecil dibandingkan dengan proses kompos aerobik ataupun penumpukan sampah
·         Memperkecil volume atau berat limbah yang dibuang
·          Memperkecil rembesan polutan Keuntungan energi
·         Proses produksi energi bersih
·         Memperoleh bahan bakar berkualitas tinggi dan dapat diperbaharui
·         Biogas dapat dipergunakan untuk berbagai penggunaan Keuntungan lingkungan
·         Menurunkan emisi gas metan dan karbon dioksida secara signifikan

Bagian utama dari proses produksi biogas yaitu tangki tertutup yang disebut digester Tangki yang kedap yang diisi oleh bahan organik, dan solid buangan proses dapat dikeluarkan . Desain digester bermacam macam sesuai dengan jenis bahan baku yang digunakan, temperatur yang dipakai dan bahan konstruksi Digester dapat terbuat dari cor beton, baja, bata atau plastik dan bentuknya dapat berupa seperti silo, bak, kolam dan dapat diletakkan di bawah tanah Pemilihan jenis digester sangat tergantung dari jenis limbah ; contohnya desain digester untuk limbah kotoran unggas akan lain dengan limbah kotoran babi atau sapi

Tiga jenis digester menurut kontruksinya. Masing-masing berbeda biaya pembuatannya, kecocokan dengan iklim dan juga konsentrasi solid kotoran yang akan difermentasi .
Covered lagoon digester (digester bak tertutup) sesuai dengan namanya, merupakan kolam penampung kotoran ternak dengan tutup . Tutup menangkap gas yang dihasilkan selama proses dekomposisi kotoran Jenis ini merupakan yang termurah biayanya Menutupi bak yang berisi kotoran ternak merupakan desain yang paling sederhana dari teknologi digester yang digunakan untuk kotoran cair dengan kandungan solid kurang dari 3% Tutupnya berupa bahan tak tembus (impermeable) dan menutupi seluruh permukaan bak. Bak tersebut terbuat dari cor beton dan ditutupi hingga kedap Metan yang dihasilkan terperangkap di bawah tutup Gas yang akan digunakan dikeluarkan melalui pipa Digester jenis ini memerlukan kolam yang besar dan temperatur yang hangat dan tidak cocok untuk daerah dingin atau daerah
Complete mix digester terbuat dari baja, cocok untuk volume kotoran ternak yang besar dan mempunyai kandungan solid antara 10% Tangki yang dilengkapi pemanas juga pengaduk mekanik dan selama proses fermentasi bahan diaduk secara terus menerus sehingga solid tetap dalam keadaan tersuspensi . Biogas yang terbentuk terakumulasi di bagian atas digester . Digester bisa diinstalasi di atas atau terkubur di bawah tanah Digester jenis ini mahal biaya pembuatan, operasional dan pemeliharaannya
Plugflow digester cocok untuk limbah yang berasal dari kotoran ruminansia yang mempunyai kandungan padatan antara 11 sampai 13% Ciri khas jenis ini memiliki tempat pengumpulan kotoran, tempat pencampuran dan tangki digester Pada tempat pencampuran, penambahan air diatur sehinggga slurry mempunyai konsistensi yang optimal Digester biasanya persegi panjang, kedap air dan dengan tutup yang dapat diubah


BAB IV
KEGUNAAN BIOGAS


3.1.Kegunaan Biogas
Biogas digunakan sebagai gas alternatif untuk memanaskan dan menghasilkan energi listrik. Biogas bersifat ramah lingkungan dan dapat mengurangi efek rumah kaca.
Pemanfaatan biogas sebagai energi alternatif akan mengurangi penggunaan kayu bakar. Dengan demikian dapat mengurangi usaha pohon di hutan, sehingga ekosistem hutan tetap terjaga.Sebagai energi alternatif
Tabel : Kesetaraan biogas dengan bahan bakar lainya (Deptan,2009)
3.2.Potensi Penggunaan Biogas di Indonesia
            Teknologi biogas adalah teknologi yang dapat dikembangkan dimana saja selama ketersediaan limbah yang digunakan masih ada.Di negara maju perkembangan teknologi biogas sejalan dengan perkembangan teknologi lainya, untuk di indonesia teknologi biogas dapat dibangun dengan kepemilikan kolektif dan dipelihara secara bersama
            Beberapa alasan biogas belum populer penggunaan nya dikalangan peternak indonesia adalah kurangnya sosialisasi dan teknologi yang diterapkan masih kurang praktis dan pelu pemeliharaan yang seksama























Kesimpulan

Biogas merupakan energi yang dapat dijadikan bahan bakar alternatif untuk menggantikan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti minyak tanah dan gas alam, dengan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat dan  semakin menipisnya kebutuhan bahan bakar menjadi permasalahan yang besar bagi kelangsungan hidup. Biogas hasil dari proses penguraian bahan bahan organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme anaerobik pada kondisi aerob di dalam digester.
Proses pembuatanya melalui 4 tahap yaitu Hidrolisis, asidolisis, asetogenesis dan metanogenesis dengan 3 jenis bakteri yang berperan yaitu bakteri fermentatif, asidogenik dan metanogenik. Terdapat dua teknologi umum digunakan untuk memperoleh biogas . Pertama, proses yang sangat umum yaitu fermentasi kotoran ternak menggunakan digester yang didesain khusus dalam kondisi anaerob kedua, teknologi yang baru ini dikembangkan yaitu menangkap gas metan dari lokasi tumpukan pembuangan sampah tanpa harus membuat digester khusus
Biogas digunakan sebagai gas alternatif untuk memanaskan dan menghasilkan energi listrik. Biogas bersifat ramah lingkungan dan dapat mengurangi efek rumah kaca.
Pemanfaatan biogas sebagai energi alternatif akan mengurangi penggunaan kayu bakar. Dengan demikian dapat mengurangi usaha pohon di hutan, sehingga ekosistem hutan tetap terjaga.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar